Ekonom Berharap Suku Bunga Turun setelah Jokowi Menang Pemilu

Presiden Joko Widodo (Jokowi) diharapkan melakukan upaya baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi saat ia mempersiapkan masa jabatan kedua. Bank sentral segera dapat memainkan perannya dengan penurunan suku bunga Bank Indonesia.



Sejumlah ekonom menyerukan pelonggaran kebijakan moneter setelah hasil tidak resmi dari pemilihan presiden pekan lalu memperlihatkan Jokowi unggul. Itu memungkinkan kelangsungan kebijakan dan bagi Jokowi untuk terus maju dengan program infrastrukturnya yang ambisius.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersikap hati-hati pada kemungkinan penurunan suku bunga, Namun, dengan inflasi yang tenang dan mata uang yang stabil setelah kemunduran pasar negara berkembang tahun lalu, ada dukungan yang tumbuh bahwa pembuat kebijakan sekarang memiliki ruang yang cukup untuk mempertimbangkan pelonggaran akhir tahun ini, dan pada awal kuartal ini.

Pemotongan suku bunga bisa menjadi prospek domestik yang lebih cerah.
“Kemenangan Jokowi dapat mengarah pada dimulainya kembali arus masuk, menambah faktor lokal dan global yang menguntungkan,” kata Euben Paracuelles, seorang ekonom di Nomura Holdings Inc. di Singapura. “Kami pikir ruang lingkup untuk penurunan suku bunga tahun ini oleh Bank Indonesia telah meningkat.” Ia memperkirakan 50 basis poin pelonggaran pada kuartal keempat setelah sebelumnya memperkirakan penurunan suku bunga akan dimulai tahun depan.

Presiden diperkirakan memenangkan masa jabatan lima tahun kedua ketika hasil resmi dari pemilihan 17 April diumumkan dalam beberapa minggu ke depan. Dia memimpin dengan sekitar 10 poin persentase atas Prabowo Subianto dalam penghitungan resmi, dengan sekitar 30 persen suara dari lebih dari 800.000 TPS dihitung, mencerminkan hasil quick count oleh lembaga survei swasta pekan lalu.

Setelah pemilu, pemerintah sekarang menyiapkan anggaran berikutnya dan menargetkan tingkat pertumbuhan sebesar 5,6 persen tahun depan, meskipun masih jauh dari target 7 persen yang ditetapkan oleh Jokowi menjelang masa jabatan pertamanya.

Inflasi telah cenderung turun dan mencapai titik terendah hampir satu dekade di 2,48 persen bulan lalu, di bawah target bank sentral. Harga konsumen tahun depan terlihat dalam kisaran 2 persen hingga 4 persen tahun depan, kata pemerintah pada Selasa.

Setelah menaikkan suku bunga enam kali tahun lalu untuk menstabilkan mata uang di tengah aksi jual, bank sentral Indonesia mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah pada 6 persen. Sementara itu Federal Reserve AS menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut sehingga rupiah berada pada posisi yang lebih solid. Meskipun belum siap untuk memberi sinyal pelonggaran, Gubernur BI Warjiyo lebih optimistis, menunjuk pada defisit neraca berjalan yang menyempit, dan aliran masuk portofolio.

“Memang benar bahwa berbagai indikator menunjukkan perkembangan positif,” kata Warjiyo kepada wartawan, Selasa. Namun dia mengulangi kebijakan moneter bank sentral untuk memastikan stabilitas eksternal ekonomi, terutama untuk mengendalikan defisit neraca berjalan, dan untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik kepada investor.

Rupiah telah menguat sekitar 2 persen terhadap dolar tahun ini, sementara investor telah memompa $ 3,95 miliar ke dalam obligasi pemerintah sejak awal Januari.

IMF Pangkas Outlook Pertumbuhan Global

Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya ke level terendah sejak krisis keuangan. IMF memperingatkan risiko penurunan signifikan terhadap ekonomi dunia termasuk ketegangan perdagangan, kantong ketidakstabilan politik, peningkatan utang dan meningkatnya ketidaksetaraan.



IMF menurunkan perkiraan pertumbuhannya untuk 2019 menjadi 3,3 persen dari tingkat sebelumnya 3,5 persen dalam World Economic Outlook (WEO) terbarunya.

Ini adalah ketiga kalinya dalam enam bulan lembaga itu merevisi prospeknya ke bawah. IMF memproyeksikan penurunan pertumbuhan tahun ini untuk 70 persen dari ekonomi global.

“Ini adalah saat yang sulit,” kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath pada konferensi pers di Washington.

WEO mencatat ekspansi 3,3 persen “masih masuk akal”, tetapi memperingatkan prospek bagi banyak negara masih “menantang” mengingat potensi sengketa perdagangan memanas. IMF juga memperingatkan pertumbuhan di China “mungkin akan mengejutkan pada sisi negatifnya” dan bahwa risiko dari Brexit “tetap tinggi”.

“Sangat penting bahwa pembuat kebijakan tidak membahayakan dan bekerja sama,” kata Gopinath.

Terlepas dari perkiraan yang lebih rendah untuk 2019, IMF memperkirakan ekonomi global akan meningkat pada paruh kedua tahun ini, berkat kebijakan yang lebih ramah pertumbuhan dari bank sentral.

Perkiraan untuk 2020 tidak berubah pada 3,6 persen yang didasarkan pada rebound di Argentina dan Turki, bersama dengan peningkatan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang lainnya.

Di luar tahun 2020, IMF memperkirakan bahwa pertumbuhan global akan stabil sekitar 3,5 persen, terutama didukung oleh pertumbuhan di Cina dan India.

Para pembuat kebijakan dari seluruh dunia berkumpul di Washington, DC minggu ini untuk pertemuan dua tahunan IMF dan Bank Dunia.

“Sangat penting bahwa kesalahan kebijakan yang mahal dihindari”, IMF menekankan dalam WEO terbaru ini karena mendesak kerja sama yang lebih besar di antara negara-negara.

“Ada kebutuhan untuk kerja sama multilateral yang lebih besar untuk menyelesaikan konflik perdagangan, untuk mengatasi perubahan iklim dan risiko dari keamanan siber, dan untuk meningkatkan efektivitas perpajakan internasional,” kata laporan itu.

Darmin Nasution: Pertumbuhan Ekonomi 2019 Bakal Lebih Tinggi dibandingkan 2018

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 mampu tumbuh hingga 5,2 persen. “Tahun ini (pertumbuhan ekonomi) 5,2 persen. Mungkin sedikit lebih, tetapi 5,2 persen lebih aman,” kata Darmin ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat.



Mantan gubernur Bank Indonesia itu menilai bahwa pertumbuhan ekonomi di triwulan IV memiliki kecenderungan hampir selalu lebih tinggi dari triwulan-triwulan sebelumnya. “Karena ekonomi di kuartal terakhir pada umumnya lebih aktif,” ujar Darmin.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia triwulan III-2018 tumbuh 5,17 persen terhadap triwulan III-2017 (year-on-year). BPS juga mencatat bahwa ekonomi Indonesia triwulan III-2018 terhadap triwulan sebelumnya meningkat sebesar 3,09 persen (quarter-on-quarter). Selain itu, Darmin berpendapat pula bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 akan lebih tinggi dibandingkan 2018. “Tahun depan lebih tinggi, 5,3 persen sampai 5,4 persen,” ujar dia.

BI Punya 4 “Jamu Manis” untuk Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Bank Indonesia meyakini pertumbuhan ekonomi pada 2019 akan melebihi realisasi pertumbuhan 2018 yang diperkirakan sebesar 5,1 persen (tahun ke tahun/yoy), dengan empat kebijakan di luar instrumen suku bunga acuan.



Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan BI di Jakarta, Selasa, menekankan instrumen suku bunga acuan di 2019 akan digunakan untuk menjaga stabilitas perekonomian dengan parameter nilai tukar dan inflasi. Namun, Perry membantah jika BI disebut membiarkan pertumbuhan ekonomi melambat dengan menaikkan suku bunga acuan. Dalam kurun enam bulan saja, Mei-November 2018, BI sudah menaikkan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” sebanyak 175 basis poin menjadi enam persen. “Ingat satu jamu pahit kenaikan suku bunga, tapi ada empat ‘jamu manis’, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.

Empat amunisi atau “jamu manis” yang disebut Perry itu diterjemahkan dalam beberapa kebijakan yang akomodatif. Pertama, kebijakan untuk memperdalam pasar keuangan agar meningkatkan instrumen alternatif pendanaan bagi perekonomian. Kedua, kebijakan untuk menjaga likuiditas perbankan yang memadai untuk mendorong perbankan menyalurkan pembiayaan. Ketiga, BI juga terus mematangkan untuk melonggarkan kebijakan makroprudensial. Terakhir, kebijakan digitalisasi cara pembayaran untuk meningkatkan konsumsi dan pendapatan masyarakat. Perry bahkan memperkirakan ekonomi masih bisa tumbuh di 5,2 persen (yoy) pada 2019. “Rentang pertumbuhan ekonomi di 5-5,4 persen, dengan titik tengah di 5,2 persen, bisa juga ke 5,3 persen dan 5,4 persen,” ujar Perry. Bank swasta terbesar di Indonesia PT. Bank Central Asia Tbk mengingatkan BI untuk tetap waspada dengan potensi pengetatan likuiditas di 2019. Hal ini terkait dengan arah kebijakan suku bunga acuan BI di 2019 yang tetap antisipatif dan mendahului negara-negara lain (ahead of the curve).

Menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, saat ini kondisi likuiditas perbankan sudah mengetat, yang terindikasi dari rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio/LDR) yang sudah mencapai 94 persen. “Yang masalah likuiditas pasar sudah 94 persen. Kalau DPK tahun depan cuma 8 persen, kredit 12 persen, LDR makin besar lagi. Ini rada harus waspada,” kata Jahja di kesempatan yang sama.

Jokowi: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 5,17% Sangat Baik

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,17 persen pada kuartal III tahun ini sangat baik dibandingkan dengan negara-negara lain.



“Pertumbuhan ekonomi di kuartal sebelumnya kita 5,27 persen kemudian kuartal ini 5,17 persen, Alhamdulilah menurut saya masih sangat baik dibandingkan negara lain,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Menurut Jokowi, mempertahankan pada posisi di atas lima merupakan suatu kerja keras. Hal itu ditambah dengan tren konsumsi masyarakat juga masih di atas lima persen yang juga dianggapnya sebagai kabar baik. “Kita bisa mempertahankan di posisi 5,1-5,2. Kita lihat tren konsumsi masyarakat masih di atas lima itu baik menurut saya,” katanya. Presiden berharap pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan di atas lima persen bahkan dinaikkan lebih tinggi lagi.

“Kita harapkan kita bisa mempertahankan, menaikkan dan ya kita bandingkan dengan situasi global ekonomi menurun, perang dagang masih ramai, saya kira pertumbuhan ekonomi di 5,17 masih baik,” katanya. Kepala Negara menargetkan pertumbuhan ekonomi minimal akan berada di kisaran 5,1 persen ke depan di tengah situasi global yang masih tidak menentu.

BPS mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi 5,17 persen pada kuartal III-2018. Pada Triwulan III-2018, industri pengolahan mencetak pertumbuhan 4,33 persen (yoy), sedangkan pada Triwulan II-2018 tumbuh 3,97 persen (yoy).

Sri Mulyani: Defisit Diprediksi 2,12 Persen

INFOGOLFPLUS.COM — Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Presiden Joko Widodo telah memutuskan untuk menjaga APBN 2018 dengan defisit lebih rendah dari yang direncanakan sebelumnya 2,19 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 2,12 persen.

“Dari sisi outlook sekarang ini, kami memperkirakan APBN 2018 akan menjadi defisitnya 2,12 persen dari PDB atau dalam hal ini Rp314 triliun lebih kecil dari tadinya yang diperkirakan Rp325 triliun,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers usai Rapat Terbatas yang membahas realisasi dan prognosis pelaksanaan APBN 2018 di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin.

Menkeu mengungkapkan bahwa dalam laporan semester I APBN 2018 menunjukkan defisit yang mengalami penurunan, bahkan yang disebut keseimbangan primer posisinya positif.

“Ini untuk pertama kali sejak empat tahun terakhir realisasi defisit kita adalah Rp110 triliun lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang posisinya Rp175 triliun,” katanya.

Menurut Mulyani, hal ini menggambarkan bahwa pemerintah terus berusaha membuat APBN menjadi sehat, kredibel, terutama dikaitkan dengan pengelolaan utang.

“Hasil semester I ini mengkonfirmasikan sekali lagi bahwa pemerintah sangat berhati-hati dan sangat prudent di dalam menjaga APBN 2018,” jelasnya.

Dengan postur APBN yang cukup baik dan tidak mengalami deviasi yang besar dari sisi jumlah penerimaan negara dan jumlah belanja negara dan defisitnya lebih kecil yang direncanakan, maka Poresiden menyampaikan tidak melakukan APBN perubahan, kata Mulyani.

Menkeu juga menegaskan bahwa dengan APBN yang baik ini, maka pihaknya akan menggunakan instrumen fiskal untuk menjaga ekonomi, terutama kondisi perekonomian yang sedang dalam tekanan dari ekonomi global.

Pemerintah Patok Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan 5,4-5,8%

INFOGOLFPLUS, JAKARTA — Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi cukup tinggi pada 2019 sebesar 5,4% – 5,8%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa sasaran pertumbuhan ini diarahkan untuk mendorong pemerataan pertumbuhan di seluruh Indonesia. Sektor-sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah tinggi dan menciptakan kesempatan kerja akan terus didorong.

“Industri pengolahan yang kontribusinya cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi juga perlu dipekuat dengan tetap mengembangkan produktivitas dan ketahanan sektor pertanian,” kata Sri Mulyani dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2019, Jumat (18/5/2018).

Adapun dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inlkusif, menurut Sri Mulyani, pertumbuhan konsumsi rumah tangga perlu harus dijaga. Sebagai bagian dari upaya tersebut pemerintah akan berupaya menjaga inflasi di tingkat yang rendah. Pada tahun 2019, pemerintah akan menjaga inflasi pada rentang 3,5% plus minus 1%.

“Momentum pertumbuhan investasi dan ekspor juga dipelihara, berbagai perijinan dan regulasi yang menghambat baik di pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus dihilangkan,” jelasnya.

Untuk kurs rupiah, dengan mempertimbangkan normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang mendorong peningkatan suku bunga oleh The Federal Reserve rata-rata nilai tukar rupiah tahun 2019 berada di kisaran Rp13.700 – Rp14.000.