Ini Strategi Garuda Kurangi Kerugian hingga di bawah 100 Juta Dolar

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra telah menyatakan komitmennya untuk menekan kerugian maskapai nasional itu hingga ke bawah US$100 juta.



Dalam keterangannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen Garuda Indonesia (GIA) mengungkapkan untuk mengurangi kerugian pada 2018 ini, perseroan memiliki strategi yang disebut Quick Wins Priorities yang fokus pada tiga hal, yaitu transformasi budaya perusahaan melalui pengembangan SDM, proses, dan teknologi; lalu peningkatan pendapatan; dan terakhir memperbaiki struktur biaya namun tetap memprioritaskan pelayanan kepada pelanggan.

“Dengan ketiga fokus tersebut, perseroan berupaya mengurangi kerugian pada tahun ini dengan target di bawah US$100 juta,” ungkap Manajemen, Sabtu (24/11).

Sebagai catatan, perseroan membukukan rugi bersih sebesar US$213 juta per 31 Desember 2017. Hingga kuartal III/2018, perseroan telah menderita rugi bersih sebesar US$114,08 juta, mengecil signifikan 48,62% (yoy).

saat ini, GIA pun agresif melakukan renegosiasi kontrak penyewaan pesawat yang diharapkan akan mulai berdampak positif pada kinerja keuangan di sisa tahun ini.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra menyampaikan sejauh ini perseroan menilai operasional emiten dengan sandi GIAA tersebut masih on track untuk dapat mencapai nilai rugi bersih 2018 di bawah US$100 juta.

“Kami masih optimistis kerugian bisa di bawah US$100 juta dengan meningkatkan sumber-sumber pendapatan perseroan, sekaligus perbaikan pada struktur biaya,” ungkap Ari Askhara belum lama ini.

Diputus Tidak Pailit, Merpati Bisa Terbang Lagi Tahun Depan

Pengadilan Negeri Surabaya mengabulkan proposal perdamaian PT Merpati Nusantara Airlines dengan pihak kreditur sehingga perusahaan penerbangan itu lolos dari pailit.



Hal itu disampaikan oleh Corporate Secretary PT Perusahaan Pengelola Aset Edi Winarto.

“Majelis hakim mengesahkan proposal perdamaian Merpati,” jelasnya, Rabu (14/11/2018).

Adapun pembacaan putusan sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) itu dilakukan hari ini di Surabaya.

Setelah sidang ini, peluang Merpati semakin besar untuk terbang kembali. Keputusan ini juga menandakan bahwa Merpati harus melunasi utang-utang seluruh kreditur.

Direktur PT Merpati Nusantara Airlines Asep Eka Nugraha mengatakan dengan keputusan ini Merpati bisa segera beroperasi kembali. “Putusan ini memungkinkan Merpati terbang kembali tahun depan,” kata Asep.

Berdasarkan data Perusahaan Pengelola Aset, Merpati memiliki utang mencapai Rp 10,72 triliun dan Aset Rp 1,21 triliun. Sehingga, ekuitas perseroan minus Rp 9,51 triliun.

Sebelumnya, Merpati disebut akan terbang kembali pada 2020 dengan armada pesawat Rusia Irkut MC-21. Calon investor yang akan masuk adalah PT Intra Asia Corpora yang akan membawa dana Rp6,4 triliun.