Tsunami Selat Sunda Tewaskan Sedikitnya 62 Orang

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban jiwa akibat tsunami dan gelombang tinggi yang menerjang pantai Selat Sunda bertambah menjadi 62 orang. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Minggu, mengatakan data sementara hingga pukul 10.00 WIB menunjukkan bencana tersebut telah menyebabkan 62 orang meninggal dunia, 584 orang luka-luka dan dua orang hilang. Sementara jumlah pengungsi masih dalam pendataan.



Sebanyak 430 unit rumah, sembilan hotel, dan 10 kapal mengalami rusak berat, sementara puluhan kapal lainnya juga rusak, demikian menurut BNPB.

Pandeglang adalah daerah yang paling parah terdampak tsunami, dengan jumlah korban jiwa 33 orang dan 491 orang luka-luka. Sebanyak 400 unit rumah, sembilan hotel dan 10 kapal yang mengalami rusak berat berada di wilayah tersebut. Daerah yang terdampak adalah permukiman dan kawasan wisata di sepanjang Pantai seperti Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Penimbang dan Carita. Saat kejadian banyak wisatawan berkunjung di pantai sepanjang Pandeglang.

Sedangkan di Lampung Selatan terdata tujuh orang meninggal dunia, 89 orang luka-luka dan 30 unit rumah rusak berat. Dan di Serang tercatat tiga orang meninggal dunia, empat orang luka-luka dan dua orang hilang. Pendataan, menurut Sutopo, masih dilakukan. Kemungkinan data korban dan kerusakan akan bertambah. Selain itu, lanjutnya, penanganan darurat terus dilakukan. Status tanggap darurat dan struktur organisasi tanggap darurat, pendirian posko, dapur umum dan lainnya masih disiapkan. Alat berat juga dikerahkan untuk membantu evakuasi dan perbaikan darurat. BNPB menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menegaskan tsunami yang terjadi di Selat Sunda akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kejadian ini bukan karena gempa bumi.

“Untuk kasus tsunami akibat Gunung Anak Krakatau belum ada peringatan dini. Yang ada peringatan dini akibat gempa bumi tektonik,” ujar Triyono di Gedung BMKG, Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Dia menambahkan, kejadian ini sudah pernah terjadi pada 1883. Saat itu, Gunung Krakatau meletus hingga menimbulkan bencana besar.

“Kalau gunung ada di laut dampaknya seperti itu, pada 1883 Krakatau meletus dampaknya luar biasa. Ini terjadi tidak separah tahun itu,” ucap dia.

Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat yang berlibur agar tidak bermain di pantai Selat Sunda. Sebab aktivitas gunung Anak Krakatau masih dalam status waspada.

“Penigkatan vulkanik Gunung Anak Krakatau, harus lebih waspada. Ada dampak yang ditimbulkan, seperti tsunami yang siginifikan,” ucap dia.