AS Tambah Bantuan untuk Tanggap Darurat Gempa Sulawesi Tengah 3 Juta Dolar

Pemerintah Amerika Serikat memberikan dana bantuan tambahan sebesar 3 juta dolar AS melalui USAID/OFDA untuk mendukung upaya tanggap bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.



Keterangan tertulis Kedutaan Besar AS yang diterima di Jakarta, Kamis, menyebut dana tambahan ini meningkatkan total kontribusi AS untuk pemulihan pascabencana Sulawesi Tengah menjadi 6,7 juta dolar AS, di luar biaya operasional Departemen Pertahanan AS. Tiga pesawat Hercules C-130 AS dan personnel Angkatan Udara AS pendukung dari Satuan Contingency Response Group ke-36 di Guam juga telah memperpanjang masa operasi penerbangan udara untuk menghubungkan Balikpapan dan Palu hingga 25 Oktober 2018.

Perpanjangan waktu ini akan memungkinkan transportasi lanjutan kargo dan personel tanggap darurat yang penting. “Inilah yang kami maksudkan ketika kami mengatakan bahwa kami adalah mitra Indonesia,” kata Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph R. Donovan Jr. “Kami akan terus mendukung pemerintah Indonesia dalam upaya bantuan,” ia melanjutkan. Dana tambahan 3 juta dollar AS dari USAID/OFDA akan terdiri dari 2,4 juta dolar AS untuk program tanggap darurat multi-sektor bagi keluarga yang terkena dampak bencana, termasuk untuk meningkatkan akses langsung ke air bersih, sanitasi, dan kebersihan.

Selain itu, dana tersebut digunakan untuk tempat penampungan dan pemukiman, ruang perlindungan dan kegiatan untuk anak-anak yang terkena dampak, pemulihan ekonomi dan sistem pasar untuk membantu masyarakat pulih secara lebih cepat, serta memberi mereka pilihan yang bermartabat dalam memprioritaskan kebutuhan mereka yang paling mendesak. Kemudian bantuan teknis senilai 300 ribu dolar AS kepada pemerintah Indonesia melalui dukungan kepada koordinasi Shelter Sub-Cluster guna memperkuat penampungan darurat dan jangka panjang bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal (internally displaced persons/IDPs). Sementara 300 ribu dolar AS lainnya digunakan untuk bantuan teknis kepada pemerintah Indonesia melalui dukungan kepada Camp Coordination dan Camp Management Sub-Cluster guna memperkuat seleksi, rancangan, koordinasi, dan pengelolaan area transisi bagi para IDP untuk jangka panjang dan pengumpulan data untuk memonitor demografi IDP dan pola pergerakan sehingga tanggap bencana dan pemulihan sesuai sasaran dan efektif.

USAID/OFDA memimpin tanggap bencana pemerintah AS dalam bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah. Para pakar bencana USAID/OFDA berada di lapangan untuk menentukan kebutuhan kemanusiaan dan mengkoordinasi upaya tanggap bencana dengan pemerintah Indonesia dan berbagai organisasi kemanusiaan.  Melalui OFDA, USAID telah membantu rakyat Indonesia siaga terhadap bencana dan mengurangi dampaknya terhadap komunitas dan memberikan pelatihan kepada lembaga sejawatnya selama lebih dari satu dekade

Korban Meninggal Akibat Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah 2.073 Orang

Korban jiwa akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah hingga Kamis pukul 13.00 WITA mencapai 2.073 orang. Demikian dikemukakan Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.



“Semua korban meninggal dunia sudah dimakamkan setelah diidentifikasi, baik secara massal maupun oleh keluarganya,” kata Sutopo dalam jumpa pers terkait penanganan gempa dan tsunami Sulawesi Tengah di Graha BNPB, Jakarta, Selasa.  Sutopo mengatakan korban yang ditemukan kebanyakan meninggal akibat terjangan tsunami, selain karena tertimpa bangunan, maupun tertimbun lumpur karena likuifaksi.

Korban meninggal dunia yang ditemukan di Kota Palu 1.663 orang, Kabupaten Donggala 171 orang, Kabupaten Sigi 223 orang, Kabupaten Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu, Sulawesi Barat satu orang.  Kota Palu menjadi daerah dengan korban meninggal dunia terbanyak karena berada di wilayah pantai. Sepanjang teluk dihantam tsunami berketinggian 2,2 meter hingga 6 meter lebih dalam jarak setengah kilometer dari pantai.

Dari seluruh korban meninggal dunia, 994 orang dimakamkan secara massal dan 1.079 orang dimakamkan oleh keluarganya. Sementara itu, korban yang dilaporkan hilang 680 orang. Korban luka-luka yang dirawat 10.679 orang dengan perincian 2.549 orang luka berat dan 8.130 orang luka ringan. “Pengungsi berjumlah 87.725 jiwa. Sebanyak 78.994 jiwa mengungsi di 112 titik di wilayah Sulawesi Tengah, sedangkan 8.731 jiwa di luar Sulawesi Tengah,” katanya.

Gempa 6,4 SR Goyang Situbondo, 3 Orang Tewas

Gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang Situbondo, Jawa Timur, Kamis (11/10/2018) dini hari.



Guncangan gempa itu terasa begitu keras hingga Denpasar.

Guncangan sempat terjadi beberapa detik.

Sementara itu, gempa bumi itu juga terasa mengguncang Surabaya, 11 Oktober 2018 sekitar pukul 01:44 WIB.

Getaran gempa terasa sampai dua kali. Getaran kedua terasa lebih kuat.

 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan data sementara dampak gempa dilaporkan tiga orang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan.
Daerah yang terparah adalah di Kecamatan Gayam Kabupaten Semenep Jawa Timur. Sebanyak tiga orang meninggal dunia adalah Nuril Kamiliya (7), H Nadhar (55) dan seorang lelaki dewasa yang saat ini sedang diidentifikasi.

Para korban tersebut merupakan warga desa Prambanan dan Jambusok, Kecamatan Gayam, Sumenep. Korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Kejadian gempa Kamis dini hari saat korban sedang tidur tiba-tiba gempa mengguncang dan rumah roboh sehingga korban tidak bisa menyelamatkan diri.

BMKG melaporkan episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,47 LS dan 114,43 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km. Gempa tidak berpotensi tsunami. Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa ke BPBD Provinsi Jawa Timur.

Justin Rose Beri Bantuan bagi Korban Gempa Sulawesi Tengah

Justin Rose mengumumkan akan mendonasikan sebesar US$50,000 untuk bantuan bencana di Palu, Indonesia – tempat gempa bumi dan tsunami terjadi yang menimbulkan kehancuran luar biasa. Pemain nomor dua dunia asal Inggris ini memastikan akan kembali untuk mempertahankan trofi Indonesian Masters, event akhir musim Asian Tour, pada bulan Desember mendatang ini. Dan melihat tragedi yang terjadi di Palu, ia merasa perlu untuk turut memberikan bantuan.



Justin Rose akan menyumbangkan dana melalui Habitat for Humanity, Lembaga Kemanusiaan Resmi Asian Tour, yang akan membantu membangun ulang rumah-rumah masyarakat yang tidak mampu. “Wilayah itu (Palu) ada di semua berita dan saya merasa perlu melakukan sesuatu bagi mereka yang terkena bencana,” kata Justin. “Hati saya berduka kepada seluruh korban di saat-saat yang sangat sulit ini. Saya berdoa semoga mereka baik-baik saja di saat mereka mencoba bangkit dan membangun kembali.”

Justin memenangi US Open pada 2013, mengalungi medali emas Olimpiade pada 2016 dan tahun ini meraih FedEx Cup di PGA Tour. Belum lama ini, ia melanjutkan perannya sebagai salah satu anggota penting dari Tim Eropa di Ryder Cup yang membantu mengarahkan mereka meraih kemenangan di Paris.

Jimmy Masrin, salah satu pendiri Indonesian Masters dan Ketua Asian Tour, mengatakan, “Justin adalah pria sejati di Indonesian Masters tahun lalu dan Ia benar-benar menunjukkan empatinya dengan berdonasi bagi bencana Palu. Doa kami bersama masyarakat Palu.” Indonesian Masters akan digelar di Royale Jakarta Golf Club pada 13-16 Desember.

Masyarakat Sumbar Kirim Rendang 1,6 Ton untuk Korban Gempa dan Tsunami

Masyarakat Sumatera Barat menyalurkan bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi tengah berupa 1,6 ton rendang yang didistribusikan melalui Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma dengan pesawat Hercules milik TNI.



“Kami sudah dapat konfirmasi. Pagi ini bantuan rendang dari Sumbar diberangkatkan ke Palu, Sulteng,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Rumainur di Padang, Sabtu. Rendang itu diharapkan bisa membantu meringankan beban korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi. Bantuan itu sudah mulai diinisiasi untuk dikumpulkan satu hari pascagempa dan tsunami melanda Sulawesi Tengah. Hanya dalam waktu empat hari terkumpul 1,6 ton rendang sebagai bentuk kepedulian warga Sumbar terhadap saudaranya yang mengalami musibah di Sulawesi.

Masyarakat Sumbar, terutama Padang, sangat memahami sulitnya kehidupan pascabencana gempa yang meluluhlantakkan infrastruktur daerah. Karena di Sumbar sendiri pada 30 September 2009, sesaat sebelum bedug maghrib berbunyi, gempa 7,6 SR mengguncang Sumbar. Meski tidak mengakibatkan tsunami, gempa itu menghancurkan ribuan rumah dan perkantoran. Listrik mati, jaringan telekomunikasi terputus hingga daerah menjadi terisolir dan logistik susah didapat. Tercatat 1.195 orang meninggal dalam bencana besar tersebut.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan logistik merupakan kebutuhan utama bagi korban pascabencana, karena itu masyarakat Sumbar fokus mengumpulkan rendang untuk membantu kebutuhan logistik di Palu, Donggala dan Sigi. “Selain rendang, masyarakat bersama Pemprov Sumbar juga mengirimkan Rp1 miliar uang bantuan yang bisa digunakan oleh pemerintah setempat untuk membantu warganya,” katanya. Sebelumnya Pemprov Sumbar kesulitan mendistribusikan rendang yang telah terkumpul di kantor BPBD setempat karena belum ada penerbangan komersil menuju Palu. Akhirnya pemerintah daerah berkoordinasi dengan satgas penanggulangan bencana gempa dan tsunami Palu dan Donggala di Lanud Halim Perdanakusuma untuk pengiriman bantuan itu.

Pulau Sumba Diguncang Gempa Beberapa Kali Pagi Ini

Pulau Sumba Provinsi Nusa Tenggara Timur beberapa kali diguncang gempa bumi dengan magnitudo 5,2 SR, 5,3 SR, 6,0 SR dan 6,3 SR pada Selasa pagi.



Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Jakarta, Selasa, pada pukul 07.16.44 WIB menyatakan telah terjadi gempa bumi berkekuatan 6,3 SR di Pulau Sumba.

Episenter gempa berada di 10.57 Lintang Selatan (LS) dan 120.22 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 10 Kilometer.

Sebelumnya terjadi gempa bumi berkekuatan 6,0 SR pada pukul 06.59.42 WIB pada posisi episenter 10.57 LS dan 120.25 BT atau 66 kilometer barat daya Sumba Timur dengan kedalaman 10 kilometer.

Sebelumnya pada pukul 06.27.06 WIB juga terjadi gempa bumi berkekuatan 5,3 SR di Sumba dengan episenter 10.48 LS dan 120.24 BT serta kedalaman 10 kilometer.

Atau sekitar 56 kilometer Barat Daya Sumba Timur, 125 kilometer Tenggara Sumba Tengah, 131 kilometer Tenggara Sumba Barat, 375 km Barat Daya Kupang NTT.

Pada pukul 06.12.03 WIB, Sumba juga diguncang gempa 5,2 SR pada episenter 10.56 LS dan 120.20 BT dengan kedalaman 10 kilometer.

Menurut BMKG gempa bumi tersebut tidak berpotensi tsunami.

Jumlah Korban Tsunami dan Gempa Sulawesi Tengah 844 Orang

Jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai 844 orang. Demikian dikemukakan Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.



“Data itu masih bisa bertambah karena jenazah terus berdatangan,” kata Sutopo dalam jumpa pers tentang penanganan gempa dan tsunami Sulawesi Tengah di Graha BNPB, Jakarta, Senin (1/10/2018). Selain karena jenazah masih terus berdatangan, Sutopo mengatakan belum semua wilayah terdampak gempa dan tsunami memberikan informasi tentang korban meninggal dunia. “Dari Kabupaten Sigi belum ada informasi,” ujarnya. Terkait jumlah korban meninggal dunia versi lain yang menyebutkan mencapai 1.203 orang, Sutopo mengatakan itu bukan angka resmi dari posko induk penanganan gempa dan tsunami, melainkan hanya perkiraan. Angka yang dikeluarkan BNPB adalah korban meninggal dunia yang jenazahnya sudah ditemukan. “Mohon masyarakat mengacu data dari BNPB yang berasal dari posko induk,” katanya.

Gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Richter yang telah dimutakhirkan oleh BMKG menjadi 7,4 Skala Richter mengguncang wilayah Palu dan Donggala pada Jumat (28/9) pukul 17.02 WIB. Pusat gempa berkedalaman 10 kilometer itu berada pada 27 kilometer Timur Laut Donggala. BMKG telah mengaktivasi peringatan dini tsunami dengan status Siaga (tinggi potensi tsunami 0,5 meter hingga tiga meter) di pantai Donggala bagian barat, dan status Waspada (tinggi potensi tsunami kurang dari 0,5 meter) di pantai Donggala bagian utara, Mamuju bagian utara dan Kota Palu bagian barat. BMKG telah mengakhiri peringatan dini tsunami sejak Jumat (28/9) pukul 17.36 WIB.