Bank Sentral AS Beri Isyarat Pertahankan Suku Bunga

Federal Reserve (Fed), bank sentral AS,  pada Rabu mengisyaratkan bahwa pihaknya akan menahan rencananya untuk menaikkan suku bunga tahun ini di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi.



Para bankir sentral dengan suara bulat setuju untuk mempertahankan tingkat dana federal, yang memengaruhi biaya hipotek, kartu kredit, dan pinjaman lainnya, pada kisaran 2,25% hingga 2,5%.

Langkah ini sesuai dengan janji untuk menjadi “sabar” dengan rencana sebelumnya untuk menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, dan membiarkan data mendorong pengambilan keputusan. Tetapi Gubernur Fed melangkah lebih jauh dengan mengatakan mungkin pihaknya menghentikan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Jerome Powell, Gubernur  Fed, berusaha meyakinkan Amerika bahwa keputusan untuk tidak melanjutkan kenaikan suku bunga lagi bukan karena kekhawatiran tentang ekonomi AS, yang tetap mendekati angka ketenagakerjaan penuh. Sebaliknya, para pembuat kebijakan khawatir tentang faktor-faktor luar termasuk perlambatan di China dan Eropa, ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung dan baru-baru ini, penutupan pemerintah yang berlarut-larut yang dapat mengakibatkan “prospek yang kurang menguntungkan.”

“Kasus penaikan suku bunga agak melemah,” kata Powell kepada wartawan pada konferensi pers setelah pertemuan penetapan suku bunga komite Januari. “Kami percaya kami dapat mendukung perekonomian dengan sabar dan mengevaluasi prospek sebelum melakukan penyesuaian kebijakan di masa depan.”

The Fed mengatakan dalam sebuah pernyataan terpisah bahwa pihaknya siap untuk menggunakan berbagai alat untuk mengarahkan ekonomi AS, termasuk mengubah rencananya untuk menormalkan neraca dengan ukuran dan komposisi, “jika kondisi ekonomi masa depan menjamin kebijakan moneter yang lebih akomodatif ketimbang pencapaian hanya dengan mengurangi tingkat dana federal. ”

Pejabat Fed masih mempertahankan prospek yang agak cerah untuk ekonomi AS, menunjuk ke kenaikan “pekerjaan” yang kuat dalam beberapa bulan terakhir, terus rendahnya lapangan kerja dan inflasi yang lemah.

Para pembuat kebijakan telah mengambil pendekatan menunggu dan melihat saat ekonomi AS menghadapi sejumlah besar tantangan.

Bank sentral telah merencanakan dua kenaikan suku bunga pada tahun 2019.

Gubernur The Fed: Bank Sentral AS Bersabar dan Hati-hati

Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell mengatakan lembaga yang dipimpinnya dapat bersabar pada kebijakan mengingat stabilnya inflasi, sehingga dapat menilai apakah ekonomi AS akan melambat tahun ini di tengah kekhawatiran pasar keuangan.



Komentar awal tersebut sempat mengerek saham, namun kemudian melemah ketika Powell mengatakan The Fed akan mengurangi lebih banyak aset secara signifikan.

Reaksi para investor menggarisbawahi keseimbangan yang harus dipertahankan Powell ketika dia terus melihat momentum ekonomi yang kuat di dalam negeri bahkan ketika para investor mengkhawatirkan perlambatan ekonomi global.

“Terutama dengan inflasi yang rendah dan terkendali, kami memiliki kemampuan untuk bersabar dan melihat perkembangan dengan hati-hati saat kami mencari tahu mana yang akan menjadi kisah di 2019,” ungkap Powell di Economic Club of Washington, pada Kamis (10/1/2019).

Dia juga menurunkan prediksi pejabat The Fed Desember lalu yang menunjukkan bahwa suku bunga akan dinaikkan dua kali tahun ini. “Tidak ada rencana seperti itu. Itu tergantung pada pandangan yang sangat kuat untuk 2019, pandangan yang mungkin masih terjadi,” kata Powell.

Bank sentral AS menaikkan suku bunga empat kali tahun lalu dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pengangguran yang menyentuh level terendah dalam setengah abad terakhir.

Powell mengatakan, untuk saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan kemungkinan peningkatan resesi.

“Tidak ada jalur yang ditetapkan sebelumnya untuk suku bunga, terutama saat ini,” katanya.

“Jika pertumbuhan global melambat, Saya dapat meyakinkan Anda … kami dapat secara fleksibel dan cepat memindahkan kebijakan, dan kami dapat melakukannya secara signifikan jika itu sesuai,” tambahnya.

Meskipun reaksi pasar terhadap komentar Powell cukup minim, indeks S&P 500 sempat turun sekitar 0,4% sebelum berbalik menguat, sedangkan dan imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun mencapai level tertinggi pada Kamis sore.

“Ini akan jauh lebih kecil daripada sekarang … tapi tidak seperti sebelumnya,” kata Powell tentang neraca, yang mulai menyusut pada Oktober 2017.

Sebelum The Fed mulai membeli obligasi dalam menghadapi resesi 2007- 2009, bank sentral AS tersebut memiliki aset sekitar US$900 miliar.

Gubernur The Fed juga berkomentar mengenai penutupan sebagian pemerintah AS (government shutdown). Dia mengatakan shutdown yang berlarut-larut akan berdampak dalam data ekonomi dan, karena lembaga yang menyediakan data ekonomi juga ditutup, ini juga akan membuat gambaran ekonomi kurang jelas bagi The Fed.

The Fed Mungkin Akan Tahan Suku Bunga Tahun Depan

Bank Sentral AS (Federal Reserve) kemungkinan akan berhati-hati dalam menaikkan suku bunga pada tahun depan. Pasalnya, prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global, berkurangnya manfaat stimulus fiskal di AS, dan volatlitas pasar keuangan akan menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan.



The Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif seperti yang diproyeksikan, kata Jim Grant, editor dan pendiri newsletter Interest Rate Observer.

“Saya pikir Fed pasti akan berkedip,” kata Grant kepada CNBC pada hari Selasa. “Saya tidak tahu kapan itu akan membalik arah; saya menduga lebih cepat daripada nanti.”

Hal itu pun kemungkinan akan menjadi berita baik bagi pasar saham yang telah terguncang setelah aksi jual. Indeks S&P 500 telah anjlok sekitar 10% dari puncaknya pada September karena berbagai pemicu, mulai dari kekhawatiran perang dagang AS—China hingga keraguan akan valuasi saham teknologi.

Spread obligasi korporasi pun melebar karena investor menghindari aset-aset berisiko.

Sebelumnya, The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) September telah memperkirakan bakal menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun depan. Adapun perkiraan itu nantinya dijadwalkan untuk diperbarui pada FOMC 18—19 Desember 2018.

“[Dengan penurunan harga saham dan kontraksi pertumbuhan di Jerman dan Jepang pada kuartal III/2018], saya tidak akan heran jika The Fed mundur dari kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2019,” ujar Donald Ellenberger, Senior Portofolio Manager di Federated Investors Inc.

Senada, Senior Fund Manager di Insight Investment Gautam Khanna memaparkan, meningkatnya volatilitas pasar keuangan dapat menahan The Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga pada 2019.

Adapun secara kolektif, pedagang di pasar kontrak derivatif mata uang memperkirakan hanya ada satu kenaikan suku bunga pada tahun depan dan probabilitas pengetatan sebesar 0,33%, atau turun dari 0,50% pada awal bulan ini.

Sementara beberapa pengamat The Fed lainnya,termasuk Michael Feroli dari JPMorgan Chase&Co, Jan Hatzius dari Goldman Sachs Group Inc., dan Ethan Harris dari BofA Merrill Lynch tetap memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada 2019 sebanyak empat kali ditopang oleh kuatnya ekonomi domestik AS dan rendahnya tingkat pengangguran di sana.

Adapun Gubernur Fed Jerome Powell pekan lalu menyampaikan bahwa para pembuat kebijakan akan mencermati kondisi pasar keuangan, bisnis, dan ekonomi dalam merespon kredit seiring dengan FOMC menilai kembali seberapa jauh dan seberapa cepat kenaikan suku bunga.

“Perdebatannya kali ini bukanlah mengenai kenaikan pada Desember, tapi mengenai kapan mereka [The Fed] akan berhenti pada tahun depan. Ini semua akan bertopang pada data dan akan menentukan karena tahun depan semakin dekat,” ujar Harris dari Bank of America Merrill Lynch.