Direktur Pelaksana IMF: Risiko Perlambatan Ekonomi Dunia Makin Tinggi

Ekonomi dunia bergerak lebih lambat daripada perkiraan dan menghadapi risiko yang makin meningkat secara signifikan. Sebagian dari itu berkaitan dengan kebijakan. Tingginya tarif dan volatilitas pasar menjadi penyumbang pada pengetatan kondisi keuangan termasuk pada negara dengan ekonomi kuat. Ini menjadi faktor besar di dunia yang terbebani dengan banyak utang. Hal ini dikatakan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) Christine Lagarde dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Senin.



“Ini tak berarti bahwa resesi global sudah dekat, tapi risiko penurunan tajam dari pertumbuhan global makin meningkat,” kata Lagarde.

Dia mewanti-wanti pemerintah di dunia agar memperhatikan kerentanan dan siap menghadapi serangkaian perlambatan ekonomi.

Meski demikian memang masih ada pertumbuhan, kata Lagarde.  Pemerintah harus mempertajam momen pertumbuhan yang ada. Karena itu pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak kebijakan yang mendukung hal tersebut dan memperkuat kolaborasi.

Lagarde menawarkan tiga hal untuk mengatasi perlambatan ekonomi global, pertama, mengurangi utang pemerintah yang tinggi, kedua, penerapan kebijakan moneter yang independen dan penggunaan nilai tukar sebagai peredam syok, serta menggunakan perangkat makroprudensial untuk meningkatkan stabilitas dan mengurangi kerentanan ekonomi.

IMF: Indonesia Tak Butuh Pinjaman

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mengatakan Indonesia saat ini tidak memerlukan bantuan ataupun pinjaman dari IMF karena kondisi ekonomi baik. “Pinjaman dari IMF bukan pilihan, karena ekonomi Indonesia tidak membutuhkannya,” kata Lagarde dalam pernyataannya di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018).



Lagarde mengatakan pengelolaan ekonomi Indonesia saat ini telah dilakukan dengan optimal melalui koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia maupun pihak-pihak terkait. “Ekonomi Indonesia dikelola dengan sangat baik oleh Presiden Jokowi, Gubernur Perry, Menteri Sri Mulyani, Menteri Luhut, dan rekan-rekan mereka,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Lagarde juga menyampaikan belasungkawa atas bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Palu, Sulawesi Tengah. “Kami berbelasungkawa kepada mereka yang selamat, kepada mereka yang telah kehilangan orang yang mereka cintai, dan kepada seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya. Untuk itu, sebagai simbol solidaritas, para staf maupun manajemen IMF memberikan bantuan senilai Rp2 miliar guna membantu proses rekonstruksi dan pemulihan bencana. “Kami juga akan membuka kesempatan bagi para peserta Pertemuan Tahunan agar mereka juga dapat berkontribusi,” kata Lagarde.

Meski mengalami bencana, Lagarde juga memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia yang tidak membatalkan penyelenggaraan Pertemuan Tahunan di Bali. Menurut dia, pembatalan bisa menghilangkan kesempatan untuk memperlihatkan kontribusi Indonesia kepada dunia serta menciptakan peluang dan lapangan pekerjaan. “Membatalkan Pertemuan Tahunan bukanlah sebuah pilihan karena hal itu akan menyia-nyiakan sumber daya yang telah dianggarkan selama tiga tahun terakhir,” ujarnya.