Pemerintah Berharap Hyundai Bantu Percepat Pertumbuhan Mobil Listrik Indonesia

Hyundai mendapat pujian dari Pemerintah RI. Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan mengapresiasi proyek Hyundai yang mampu beroperasi dalam menjaga protokol operasional di tengah pandemi Covid-19.

“Kami mengapresiasi upaya Hyundai untuk terus melanjutkan pembangunan pabrik Hyundai agar perkembangannya berjalan dengan baik. Pemerintah Indonesia saat ini menargetkan untuk mempercepat pertumbuhan industri EV [Electric Vehicle] dan berharap Hyundai dapat menjadi bagian dari misi penting ini,” ujar Luhut saat mengunjungi Pabrik Mobil Listrik Hyundai di Sukamukti Bekasi, Jumat (6/11/2020).

Pabrik tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi komitmen investasi Hyundai untuk mengembangkan mobil listrik yang telah ditandatangani di Korea Selatan pada 26 November 2019. Continue reading “Pemerintah Berharap Hyundai Bantu Percepat Pertumbuhan Mobil Listrik Indonesia”

Inilah Mobil Tercepat di Dunia

Pada 10 Oktober, mobil hiper reptil SSC Tuatara membukukan kecepatan rata-rata 316,11 mph (508,73 km / jam) saat mengemudi di bentangan dua jalur Highway 160 di luar Las Vegas sepanjang tujuh mil (11,27 km). Hasilnya, mobil ini mengalahkan dua nilai tertinggi yang dipegang tahun lalu oleh prototipe Chiron Bugatti (304,77 mph) dan Koenigsegg Agera RS untuk mobil produksi pada 2017 (277,87 mph). Selisihnya cukup besar.

Oliver Webb, pria Inggris berusia 29 tahun yang mengendarai Tuatara, mencapai kecepatan 301,07 (484,53 km / jam) mph pada putaran pertamanya dan 331,15 mph (532,93 km / jam) pada putaran kedua dengan arah berlawanan. Rata-rata waktu tersebut akan dihitung sebagai waktu resmi tercepat. Peristiwa pemecahan rekor itu diverifikasi oleh dua saksi yang disetujui oleh Guinness World Records.



Dalam email tentang rekor ngebut ini, pendiri perusahaan Jerod Shelby mencirikannya sebagai kemenangan gaya David vs. Goliath.

“Orang-orang mungkin melihat SSC dan bertanya apakah kami termasuk dalam ranah hypercar, dengan pesaing yang kuat,” katanya. “Rekor ini sangat luar biasa, mengetahui bahwa organisasi kecil kami baru saja mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh merek yang jauh lebih mapan, dengan tim teknik dan pengembangan yang jauh lebih besar, dan jelas anggaran yang lebih besar,” ujar Jerod.

“Kesuksesan ini terasa lebih manis, membawa berita kemenangan ini kembali ke negara bagian asal kami di Washington, tempat kami hanya memimpikannya ketika kami memulai perusahaan ini di garasi.”

SSC adalah salah satu pembuat mobil paling tidak dikenal di dunia. Dibentuk pada tahun 1998 dan hanya memiliki 24 karyawan, perusahaan swasta ini sebelumnya bernama Shelby SuperCars Inc., yang menginspirasi namanya saat ini. Seorang insinyur terlatih yang ikut mendirikan perusahaan perangkat medis pada awal 1990-an, Jerod Shelby tidak terkait dengan pengusaha otomotif Carroll Shelby, yang ditampilkan dalam film Ford v Ferrari tahun 2019.

Tidak seperti perusahaan pencetak rekor lainnya seperti Bugatti, Koenigsegg, dan Lamborghini, yang memiliki catatan produksi yang banyak, sejarah yang panjang, dan kantong yang dalam, SSC bukanlah dari  kelompok otomotif yang besar dan  mengklaim volume produksi yang sangat kecil. Hanya 100 Tuatara yang akan pernah dibuat — dengan rata-rata sekitar 20 per tahun.

Suzuki Siap Terjun ke Kendaraan Listrik dan Emisi Rendah

Suzuki

Suzuki Indonesia siap masuk ke era kendaraan rendah emisi dan listrik. Suzuki terus berdiskusi dengan prinsipal terkait perkembangan regulasi di Indonesia seperti perubahan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) dan program low carbon emission vehicle (LCEV).



4W Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Setiawan Surya mengatakan pengembangan kendaraan listrik dan rendah emisi sangat berhubungan erat dengan investasi. Semua perkembangan diskusi mobil listrik di Tanah Air terus diinformasikan kepada prinsipal untuk mempersiapkan kendaraan listrik.

“Masuknya ke mana saya belum tahu, banyak pertimbangan. Bayangan saya pribadi mungkin masuk dari mobil penumpang. Kami selalu informasikan mereka pelajari dari berbagai parameter yang lebih efisien,” ujarnya kepada Bisnis Indonesia, Rabu (10/4/2019).

Adapun, Suzuki Indonesia menjadi pilar ketiga Suzuki global setelah Jepang dan India. Saat ini Suzuki di Indonesia menjadi basis produksi untuk model low multi purpose vehicle (LMVP) Suzuki Ertiga dan pikap untuk pasar domestik dan ekspor.

4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Saputra mengatakan Suzuki mendukung penuh arah kebijakan pemerintah yang ingin memanfaatkan energi terbarukan dengan masuk ke era kendaraan listrik dan rendah emisi.

Dia menjelaskan, dari sisi teknologi terdapat banyak pilihan jenis teknologi kendaraan listrik termasuk hibrida. Namun, untuk bisa menekan konsumsi bahan bakar fosil butuh model yang bisa dipasarkan dalam jumlah banyak.

“Sebetulnya kami sudah pernah mencoba dengan Ertiga diesel hibdira pada 2017. Kami mencoba kesiapan pasar dan kesiapan kami dalam melayani teknologi tersebut. Respons cukup baik target kami 300 unit, kami bisa jual 500 unit,” ujarnya.

Indonesia Minta Volvo, Renault untuk Investasi Kendaraan Listrik

Indonesia sedang mencari investasi dari Renault SA dan Volvo AB untuk membuat kendaraan listrik karena negara ini menargetkan jumlah mobil bertenaga baterai mencapai seperempat dari total produksi pada tahun 2030.



Pemerintah telah meminta Renault dan Volvo untuk mempertimbangkan membangun pabrik atau unit perakitan di pasar mobil terbesar di Asia Tenggara, karena perusahaan itu menargetkan produksi 750.000 kendaraan listrik pada tahun 2030, kata Harjanto, Direktur Jenderal Logam, Mesin, Transportasi dan Elektronik di Kementerian Perindustrian. Total produksi kendaraan di negara itu terlihat lebih dari dua kali lipat menjadi 3 juta unit selama periode tersebut, katanya.

Presiden Joko Widodo telah menjanjikan insentif pajak untuk menarik investasi asing dalam kendaraan listrik  demi menyelamatkan negara sekitar 798 triliun rupiah ($ 56 miliar) dari mengurangi ketergantungan dan impor minyak mentah. Sementara Hyundai Motor Co dan Volkswagen AG telah menunjukkan minat dalam pembuatan kendaraan listrik, sebuah konsorsium perusahaan China dan Indonesia sudah membangun pabrik baterai, menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartato.

Chief Operating Officer PT Maxindo Renault Indonesia Davy J. Tuilan mengatakan produsen mobil Prancis itu perlu terlebih dahulu melakukan studi kelayakan sebelum memutuskan berinvestasi di Indonesia, sementara Kina Wileke, juru bicara Volvo, tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Cadangan bijih nikel yang melimpah, bahan baku utama dalam baterai listrik, merupakan keuntungan yang ingin Indonesia manfaatkan untuk mengembangkan industri kendaraan listriknya dan satu perusahaan telah mulai bekerja memproduksi bahan baku untuk baterai listrik, kata Harjanto. Begitu fasilitas produksi baterai sudah ada, akan mudah untuk menarik produsen kendaraan, katanya.

“Merakit itu mudah, jadi kita harus menguasai industri hulu,” kata Harjanto. “Kami ingin membuat komponen di sini. Itu sebabnya kami sekarang mencari pembuat baterai karena kami memiliki bahan bakunya.”

PT Pertamina telah mengumumkan rencana untuk memulai produksi baterai listrik, sementara PT Blue Bird akan mulai menambahkan mobil listrik ke armada taksi mulai tahun ini.

Pemerintah sedang menyusun seperangkat aturan baru untuk mempromosikan kendaraan listrik yang dapat menawarkan pajak barang mewah yang lebih rendah dan mengenakan pajak tinggi pada kendaraan yang menghasilkan lebih banyak emisi. Pembuat mobil mungkin diizinkan tenggang waktu dua tahun untuk mematuhi peraturan baru, kata Harjanto.

Indonesia mengharapkan pembentukan industri kendaraan listrik untuk meningkatkan ekspornya yang menurun, kata Harjanto. Penandatanganan perjanjian perdagangan bebas dengan Australia pada bulan Maret akan memungkinkan negara untuk mengekspor kendaraan bebas bea, katanya.

Tujuh Pegolf Indonesia Berangkat ke MercedesTrophy Asian Final 2019

Tujuh pegolf berhasil mewakili Indonesia menuju MercedesTrophy Asian Final 2019 setelah mencatatkan skor terbaik pada turnamen MercedesTrophy Indonesia 2019, Kamis (14/3), di Pondok Indah Golf Course, Jakarta Selatan. Tujuh peserta terbaik dari turnamen MercedesTrophy Indonesia 2019 ini akan berlaga pada MercedesTrophy Asian Final, 6-9 Agustus 2019 yang bertempat Brisbane, Australia. Pemain terbaik pada babak Asian Final tersebut juga berkesempatan untuk menuju MercedesTrophy World Final, 30 September – 5 Oktober 2019 di Stuttgart, Jerman.



Turnamen golf MercedesTrophy khusus diselenggarakan bagi pemilik kendaraan Mercedes-Benz di seluruh Indonesia. Turnamen golf bergengsi yang telah diadakan di Indonesia sejak 1991 ini adalah wujud apresiasi Mercedes-Benz kepada pelanggannya sekaligus memberi kesempatan bagi pegolf amatir terbaik untuk berprestasi pada turnamen serupa di tingkat nasional, regional dan dunia. Turnamen yang diselenggarakan pada tahun ini bertepatan dengan ulang tahun MercedesTrophy yang ke-30. Turnamen MercedesTrophy Indonesia pada tahun ini merupakan turnamen yang ke-23 diselenggarakan di Indonesia. Hingga saat ini, MercedesTrophy telah diselenggarakan di lebih dari 60 negara di dunia dengan peserta mencapai lebih dari 60.000 peserta setiap tahunnya.

Pada tahun ini, tujuh peserta terbaik di babak MercedesTrophy Indonesia Final 2019 adalah Wahyu Budi Tantama dan Andrian Wattimena (Men’s Division A), Lauren Susilo dan Amiruddin M Noer (Men’s Divison B), Irawan Widjaja dan Andy Gunawan (Men’s Division C), serta Inaya Sutowo (Women’s Division).

President Director PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia Roelof Lamberts mengemukakan Mercedes-Benz melanjutkan komitmennya pada bidang olahraga, khususnya terfokus pada golf, melalui turnamen tahunan prestisius MercedesTrophy. “Kami berharap memperkuat hubungan dengan para pelanggan dan bahkan secara konsisten dapat memberikan layanan terbaik ‘Best Customer Experience’. Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh peserta turnamen MercedesTrophy pada hari ini, dan selamat bagi para pemenang yang dapat mewakili tim Indonesia di MercedesTrophy Asian Finals,“ kata Roelof.