Harga Minyak Jatuh di tengah Serangan Covid-19

Spread the love

Sepanjang dua hari harga minyak terus turun hingga level US$41 per barel, seiring  meningkatnya kasus positif Covid-19.

Permintaan minyak dunia diproyeksikan kembali tergelincir seiring pandemi yang tak kunjung mereda. Jumlah kasus di Eropa naik lagi, yang memicu lockdown tahap kedua. Saat ini, trafik lalu lintas sudah terpangkas hampir 50 persen di sejumlah negara.

Situasi ini disusul oleh naiknya angka kasus positif di AS, Jepang, dan Korea Selatan. Negara-negara ini merupakan negara konsumen minyak yang cukup besar.

Data Johns Hopkins University menunjukkan jumlah kasus positif Covid-19 di seluruh dunia sudah menembus 52,86 juta. Naiknya kasus juga sudah membuat International Energy Agency (IEA) dan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) memangkas kembali perkiraan permintaan minyak global.

Harga WTI untuk pengiriman Desember 2020 turun 0,8 persen menjadi US$40,78 per barel, sedangkan harga Brent untuk pengiriman Januari 2021 menyusut 0,6 persen menjadi US$43,27 per barel.

Meski demikian, kabar tentang positifnya hasil uji coba vaksin Covid-19 masih mampu menopang harga sepanjang pekan ini. Secara keseluruhan, harga minyak mentah masih naik 10 persen.

Namun, tiga bank besar dunia menyatakan berita tentang vaksin saja diperkirakan tidak akan cukup untuk mengakhiri berbagai tantangan ekonomi akibat pandemi.

“Ada perbedaan besar antara pemulihan permintaan di Asia dan Eropa. Kita bisa berasumsi bahwa lockdown yang lebih ketat akan berlanjut di AS, yang akhirnya berdampak terhadap turunnya permintaan,” papar Kevin Solomon, analis di StoneX Group.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *