Boeing Perbarui Perangkat Lunak dan Pelatihan Pilot 737 MAX

Boeing melakukan pembaruan besar ke sistem perangkat lunak dan pelatihan pilot pesawat 737 MAX andalannya pada Rabu. Ini merupakan upaya paling langsung untuk memperbaiki elemen desain asli pesawat yang diyakini penyelidik menyebabkan dua kecelakaan baru-baru ini.



Di pabrik perusahaan di Renton, Washington, tempat pesawat itu dirakit, pilot Boeing menjalani skenario pada simulator penerbangan yang ditransmisikan langsung ke ruang konferensi di mana regulator dan sekitar 200 pilot dari maskapai klien berkumpul, menurut Mike Sinnett, wakil presiden untuk strategi produk Boeing. Para tamu dapat meminta simulasi tes.

“Kami bekerja dengan pelanggan dan regulator di seluruh dunia untuk mengembalikan kepercayaan pada industri kami dan juga untuk menegaskan kembali komitmen kami terhadap keselamatan dan untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat penerbangan,” kata Sinnett. “Ketelitian demi ketelitian dalam desain dan pengujian yang masuk ke dalam MAX memberi kami keyakinan penuh bahwa perubahan yang kami lakukan akan mengatasi salah satu dari kecelakaan ini.”

Pertemuan itu terjadi pada saat krisis menimpa perusahaan Amerika yang ikonik itu, yang sekarang berada di bawah pengawasan kriminal oleh Departemen Kehakiman untuk sertifikasi dan pemasaran pesawat 737 Max.

Pada dengar pendapat berturut-turut di Washington pada Rabu, pejabat administrasi Trump merasa marah tentang keputusan untuk menunda sebagian besar sertifikasi keselamatan 737 ke Boeing.

Sekretaris Transportasi Elaine Chao mengatakan pada Rabu bahwa ia merasa hal ini “sangat dipertanyakan” bahwa sistem keselamatan bukan bagian dari paket standar yang ditawarkan oleh Boeing dengan 737 Max jet-nya.

“Sangat dipertanyakan bahwa jika ini merupakan tambahan yang berorientasi pada keselamatan mengapa hal ini bukan bagian dari kerangka tindakan yang diperlukan yang harus masuk ke pesawat terbang,” katanya dalam kesaksian di depan Senat, di mana dia muncul untuk menjawab pertanyaan tentang permintaan anggaran tahunannya.

Tetapi Chao membela keputusan Administrasi Penerbangan Federal untuk tidak mendaratkan pesawat andalan Boeing setelah kejadian yang pertama dari dua kecelakaan fatal.

“FAA adalah organisasi berbasis fakta yang sangat profesional, dan mereka tidak membuat keputusan yang terlalu terburu-buru,” katanya.

Otoritas penerbangan telah menduga perangkat lunak sebagai faktor utama dalam kecelakaan Lion Air Oktober lalu. Penyelidik telah menarik kesamaan antara data penerbangan dari kecelakaan itu dan kecelakaan Ethiopia Airlines awal bulan ini yang menewaskan 157 orang.

Khawatir Resesi Ekonomi, Saham-saham AS Turun

Saham-saham di Wall Street Amerika Serikat (AS) serentak melemah pada akhir perdagangan Rabu (27/3), setelah imbal hasil obligasi AS kembali turun dan inversi kurva imbal hasil yang berkepanjangan memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi AS.



Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup terkoreksi 0,46% atau 13,09 poin di level 2.805,37, indeks Nasdaq Composite melemah 0,63% atau 48,15 poin di level 7.643,38, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 0,13% atau 32,14 poin di level 25.625,59.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun merosot, tetapi kemudian naik dari level terendahnya dalam 15 bulan semalam, ketika investor tetap fokus pada sikap dovish bank sentral secara global.

Sementara itu, kurva imbal hasil berinversi untuk pertama kalinya sejak 2007 pada Jumat (22/3/2019) dan, jika inversi berlanjut, beberapa pakar mengatakan hal itu bisa menunjukkan kemungkinan resesi dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Saham bank dan finansial turun, dengan indeks finansial S&P 500 berakhir turun 0,4%.

“Kurva hasil berinversi, itulah yang membuat investor khawatir dan itulah mengapa ada aksi jual. Ini jelas merupakan indikator ekonomi yang melambat,” terang Alan Lancz, Presiden Alan B. Lancz & Associates Inc., sebuah perusahaan konsultan investasi yang berbasis di Toledo, Ohio.

“Apakah akan masuk ke dalam resesi atau tidak, tidak ada yang benar-benar tahu. Tetapi itu akan membuat jeda di pasar,” tambahnya.

Kekhawatiran tentang pertumbuhan global telah meningkat baru-baru ini di tengah lesunya sejumlah data ekonomi. Pekan lalu, bank sentral AS Federal Reserve memperkirakan tidak akan ada kenaikan suku bunga tahun ini.

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menjadi bank sentral terkini yang menunda rencana kenaikan suku bunga di tengah meningkatnya ancaman pertumbuhan.

Sementara itu, saham Lennar Corp naik 3,9% setelah pendiri rumah nomor dua di AS ini menyatakan pihaknya memperkirakan pasar perumahan akan membaik. Saham KB Home juga naik 2,7% setelah merilis laporan yang optimistis pada Selasa (26/3) malam.

Di sisi lain, saham Centene Corp. turun 5% setelah perusahaan asuransi kesehatan ini mengatakan akan membeli rivalnya WellCare Health Plans Inc senilai US$15,27 miliar. Saham WellCare sendiri melonjak 12,3%.

BI: Defisit Transaksi Berjalan Hambat Suku Bunga Turun

Defisit transaksi berjalan Indonesia masih menjadi masalah fundamental, sehingga Bank Indonesia belum berani untuk menurunkan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate”. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, usai peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2018 di Jakarta, Rabu, mengatakan ada tiga hal yang sangat mempengaruhi penentuan kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral, yakni inflasi, kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve/The Fed, dan defisit transaksi berjalan. Inflasi selalu berada di rentang bawah sasaran Bank Sentral (inflation targeting framework) sejak awal 2015 hingga awal 2019. Sementara, The Fed sudah melontarkan sinyalemen bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan, setidaknya dalam dua tahun ke depan, sehingga dapat mendorong modal asing ke dalam negeri. Dengan demikian, faktor penentu yang masih menjadi hambatan adalah defisit transaksi berjalan Indonesia. Sepanjang 2018, defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai 2,98 persen Produk Domestik Bruto atau 31 miliar dolar AS.



“Dari tiga faktor itu, tinggal satu faktor yang harus kita pantau dan itu penting untuk kebijakan moneter ke depan,” ujar Mirza. BI dalam Rapat Dewan Gubernur periode Maret 2019 ini, menahan tingkat suku bunga acuannya di level enam persen untuk keempat kalinya. Terakhir kali Bank Sentral memangkas suku bunga acuannya adalah 1,5 tahun lalu ketika tekanan ekonomi global mereda serupa dengan kondisi ekonomi saat ini. Di 2019, ketika suku bunga acuan di negara-negara maju diperkirakan tidak akan meningkat secara cepat karena perlambatan ekonomi global, negara-negara berkembang termasuk Indonesia mendapat relaksasi untuk mengoptimalkan instrumen suku bunga acuannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, kata Mirza, fokus kebijakan suku bunga acuan BI masih diprioritaskan kepada stabilitas eksternal. Fokus kepada stabilitas eksternal dilakukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah sehingga modal asing terus masuk dan mampu membiayai defisit transaksi berjalan. Di 2019, Bank Sentral memiliki target untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke 2,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Kepala Ekonom PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk Ryan Kiryanto mengatakan kebijakan suku bunga acuan BI memang perlu ditujukan untuk memperkuat stabilitas eksternal perekonomian di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global, terutama Tiongkok, AS dan Uni Eropa. Kebijakan Bank Indonesia yang masih menahan suku bunga acuan pada level enam persen tepat dalam mengatasi masalah defisit transaksi berjalan yang masih menjadi ancaman di dalam negeri. “Ibarat permainan sepakbola, langkah BI memperkuat pertahanan domestik dari tekanan eksternal merupakan langkah yang cerdas sebelum tekanan eksternal tadi makin kuat dan besar,” ujar Ryan beberapa waktu lalu

Khawatir Perlambatan Ekonomi Dunia, Harga Minyak Tergelincir

Harga minyak mentah lanjut turun pada awal perdagangan pekan ini, Senin (25/3/2019), akibat terbebani kekhawatiran perlambatan ekonomi yang melebihi dampak gangguan pasokan dari upaya pengurangan produksi OPEC serta sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan Venezuela.



Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent menyentuh level US$66,79 per barel pada pukul 7.22 pagi WIB, turun 29 sen atau 0,4% dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Adapun harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 37 sen atau 0,6% ke level US$58,68 per barel dari level penutupan sebelumnya.

“Ekspektasi inflasi telah meningkat. Perkiraan untuk pertumbuhan dan laporan keuangan telah direvisi turun secara material di semua wilayah utama,” menurut Morgan Stanley.

Sementara itu, ANZ bank mengatakan prospek ekonomi yang semakin gelap membayangi masalah sisi pasokan yang dihadapi pasar minyak, di tengah pengurangan pasokan yang didorong oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran.

OPEC dan aliansinya seperti Rusia, berjanji untuk mengurangi sekitar 1,2 juta barel per hari (bph) pasokan minyak tahun ini guna menopang pasar.

Minyak mentah pun telah menguat lebih dari 30% sepanjang tahun ini ketika upaya pengurangan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya, serta gangguan pasokan di Venezuela dan Iran, mampu mengimbangi kenaikan produksi minyak shale AS.

Namun, penguatannya telah dibatasi oleh kekhawatiran bahwa ekonomi global yang melambat dan sengketa perdagangan yang berlarut-larut antara AS dan China akan menghambat konsumsi bahan bakar.

Rilis data manufaktur yang lebih lemah daripada ekspektasi di Jerman dan Prancis pekan lalu menimbulkan keraguan baru pada prospek ekonomi Eropa.

Di sisi lain, kurva imbal hasil treasury AS terlihat terbalik pada Jumat (22/3/2019) pagi waktu setempat, untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan tahun 2007. Pergerakan ini dipandang sebagai pertanda resesi di AS.

“PMI Prancis dan Jerman sama-sama buruk. Minyak mentah [AS] diperdagangkan di level US$60 sampai data Zona Euro mulai keluar, sehingga pasti ini tentang persepsi permintaan dan tidak ada hubungannya dengan sisi penawaran,” terang Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities, dikutip Bloomberg.

Scott Hend Menangi Maybank Championship di Malaysia lewat Playoff

Scott Hend beruntung menjuarai Maybank Championship senilai $ 3 juta dalam babak playoff melawan Nacho Elvira dari Spanyol.

Pemain Australia berusia 45 tahun itu memulai putaran terakhir ketinggalan tiga poin dari keunggulan Elvira, tetapi mengakhirinya dengan 5-under 67 di Saujana Golf Country Club di Kuala Lumpur untuk mencapai total 15-under 273.  Continue reading “Scott Hend Menangi Maybank Championship di Malaysia lewat Playoff”