);

The Fed Mungkin Akan Tahan Suku Bunga Tahun Depan

Spread the love

Bank Sentral AS (Federal Reserve) kemungkinan akan berhati-hati dalam menaikkan suku bunga pada tahun depan. Pasalnya, prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global, berkurangnya manfaat stimulus fiskal di AS, dan volatlitas pasar keuangan akan menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan.



The Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif seperti yang diproyeksikan, kata Jim Grant, editor dan pendiri newsletter Interest Rate Observer.

“Saya pikir Fed pasti akan berkedip,” kata Grant kepada CNBC pada hari Selasa. “Saya tidak tahu kapan itu akan membalik arah; saya menduga lebih cepat daripada nanti.”

Hal itu pun kemungkinan akan menjadi berita baik bagi pasar saham yang telah terguncang setelah aksi jual. Indeks S&P 500 telah anjlok sekitar 10% dari puncaknya pada September karena berbagai pemicu, mulai dari kekhawatiran perang dagang AS—China hingga keraguan akan valuasi saham teknologi.

Spread obligasi korporasi pun melebar karena investor menghindari aset-aset berisiko.

Sebelumnya, The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) September telah memperkirakan bakal menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun depan. Adapun perkiraan itu nantinya dijadwalkan untuk diperbarui pada FOMC 18—19 Desember 2018.

“[Dengan penurunan harga saham dan kontraksi pertumbuhan di Jerman dan Jepang pada kuartal III/2018], saya tidak akan heran jika The Fed mundur dari kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2019,” ujar Donald Ellenberger, Senior Portofolio Manager di Federated Investors Inc.

Senada, Senior Fund Manager di Insight Investment Gautam Khanna memaparkan, meningkatnya volatilitas pasar keuangan dapat menahan The Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga pada 2019.

Adapun secara kolektif, pedagang di pasar kontrak derivatif mata uang memperkirakan hanya ada satu kenaikan suku bunga pada tahun depan dan probabilitas pengetatan sebesar 0,33%, atau turun dari 0,50% pada awal bulan ini.

Sementara beberapa pengamat The Fed lainnya,termasuk Michael Feroli dari JPMorgan Chase&Co, Jan Hatzius dari Goldman Sachs Group Inc., dan Ethan Harris dari BofA Merrill Lynch tetap memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada 2019 sebanyak empat kali ditopang oleh kuatnya ekonomi domestik AS dan rendahnya tingkat pengangguran di sana.

Adapun Gubernur Fed Jerome Powell pekan lalu menyampaikan bahwa para pembuat kebijakan akan mencermati kondisi pasar keuangan, bisnis, dan ekonomi dalam merespon kredit seiring dengan FOMC menilai kembali seberapa jauh dan seberapa cepat kenaikan suku bunga.

“Perdebatannya kali ini bukanlah mengenai kenaikan pada Desember, tapi mengenai kapan mereka [The Fed] akan berhenti pada tahun depan. Ini semua akan bertopang pada data dan akan menentukan karena tahun depan semakin dekat,” ujar Harris dari Bank of America Merrill Lynch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *