);

Gubernur BI: Halal Jadi Agenda Global

Spread the love

Bank Indonesia  (BI) bekerja sama dengan Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) menyelenggarakan konferensi bertajuk Indonesia International Halal Lifestyle Conference and Business Forum 2018 dengan tema “Halal Lifestyle Goes Global: Trend, Technology, and Hospitality Industry.” Acara ini berlangsung pada 3-5 Oktober 2018 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan halal kini menjadi agenda global. Forum ini merupakan prakarsa kolaboratif Bank Indonesia, Indonesia Halal Lifestyle Center, dan KNKS dalam memajukan industri halal di Indonesia. *Selain keunggulan demografi dengan jumlah muslim terbesar, ekonomi penduduk muslim Indonesia pun tumbuh pesat. Karena itu dengan kerjasama, kolaborasi, dan koordinasi, ekonomi Indonesia menjadi lebih baik,” kata Perry di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu, 3 Oktober 2018.



Gubernur BI melanjutkan ekonomi dan keuangan halal dapat menjadi alternatif merek bagi model bisnis finansial. “Manfaatnya tidak hanya bagi muslim tapi juga umat yang lain. Fenomenanya ada di mana-mana dan tumbuh dengan amat cepat. Bahkan ini menjadi salah satu subjek yang dibahas Bank Dunia. Ini jadi agenda dunia. Keuangan dengan sistem syariah jadi agenda global,” kata Perry.

“Lewat forum ini diharapkan ekonomi syariah mengalami akselerasi. Dengan komitmen kuat, semangat kolaborasi, silaturahmi dan kerjasama kita promosikan ekonomi dan keuangan syariah,” kata Perry.

Upaya Indonesia mendorong ekonomi dan keuangan syariah juga akan dilakukan dalam Pertemuan Tahunan Bank Dunia-Dana Moneter Internasional (IMF). Pertemuan itu akan menjadi wadah, bagaimana Indonesia menjalankan industri halal termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan syariah.

Perry menambahkan populasi Indonesia yang mayoritas beragama Islam menjadi salah satu kekuatan untuk mendorong industri halal ke kancah global. Di samping itu, permintaan untuk industri halal tidak hanya datang dari negara dengan penduduk muslim tetapi juga bisa dari negara-negara lainnya.

Di Indonesia, fenomena untuk menggunakan produk halal terjadi di berbagai segmen mulai dari makanan minuman, fesyen, hingga produk kecantikan. Kesempatan ini, yang menurut Perry, harus bisa dimanfaatkan demi menumbuhkan ekonomi dan keuangan syariah.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, menjelaskan industri halal diperkirakan tumbuh positif dan signifikan pada 2022. Potensinya diperkirakan senilai US$3,1 triliun seiring dengan lonjakan pertumbuhan populasi muslim global.

“Karena itu, industri tersebut memiliki potensi pasar yang menjanjikan dan sangat besar. Dan juga, industri tersebut diharapkan menjadi sumber alternatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global,” kata Bambang dalam forum tersebut.

Berdasarkan data terakhir, pengeluaran yang dilakukan muslim global di sektor-sektor utama industri halal seperti makanan halal, fesyen halal, halal travel, kosmetik halal, farmasi halal, media dan rekreasi halal, halal hospitality and Islamic finance mencapai US$2 triliun pada 2016.

Karena itu, Bambang menegaskan, sebagai negara muslim terbesar di dunia, pemerintah menjadikan promosi gaya hidup halal sebagai perhatian utama dalam rangka memanfaatkan potensi besar ekonomi tersebut untuk sektor industri halal.

Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar mengatakan forum ini berupaya untuk memajukan industri halal dengan membangun jaringan dan kolaborasi.

“Kita berupaya mengakselerasi agar halal industry tidak hanya sekadar wacana tapi menjadi konkret karena negara lain sudah konkret dalam membangun industri halal,” kata Sapta.

Forum ini tidak hanya mengenai makanan dan fesyen, tapi juga budaya, seperti musik dan film. Halal Live Concert “Soul Session”, Fashion Show dan Movie Screening digelar pada tanggal 4 Oktober 2018, bertempat di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *