Ada No. 1 Dunia yang Baru di Rolex Rankings

So Yeon Ryu Korea Selatan

Rolex Rankings terakhir baru saja dirilis dan ada No. 1 Dunia yang baru dalam golf wanita. So Yeon Ryu, yang baru saja menjuarai Walmart NW Arkansas Championship pada hari Minggu, menempati posisi tersebut untuk pertama kalinya dalam karier dia. Pemain usia 26 tahun ini merupakan pegolf Korea Selatan ketiga yang meraih posisi No. 1, setelah Inbee Park dan Jiyai Shin. Ryu telah menjuarai  lima gelar LPGA, termasuk dua mayor: U.S. Open 2011 dan ANA Championship 2017.

Dalam empat minggu terakhir ada tiga pemain yang mendapat kesempatan meraih posisi No. 1 Dunia. Lydia Ko yang memegang posisi itu selama 85 minggu harus melepaskannya kepada Aryia Jutanugarn pada 12 Juni setelah Aryia menjuarai Manulife LPGA Classic. Dia memegang gelar itu selama dua minggu sebelum turun ke No. 2 setelah kemenangan Ryu di akhir minggu.

 

 

Jordan Spieth Juara Travelers Championship dengan Pukulan Bunker Fantastis

jordan spieth travelers

Pertama kalinya Jordan Spieth menjuarai PGA Tour, dia memasukkan bola dari bunker sisi green di turnamen  John Deere Classic 2013 untuk memaksakan sudden-death playoff. Pada hari Minggu di Travelers Championship, Spieth melakukannya lagi, kali ini di hole pertama sudden-death playoff di TPC River Highlands mengalahkan Daniel Berger untuk kemenangan ke-10 miliknya.

Spieth, salah satu pemain putter terbaik di tour, tidak menampilkan permainannya yang bagus di green sepanjang putaran final di  Cromwell, Conn. Namun dia berhasil menyelesaikan putaran dengan skor even-par 70 untuk finis di 12-under 268 dan tie bersama Berger.

Pada hole playoff pertama dan satu-satunya, hole 18 par 4, kedua pemain itu memukul bola ke arah kiri, sehingga menyulitkan mereka dalam memukul approach. Pukulan kedua  Spieth dari jarak lebih dari 220 yard berakhir di bunker kanan depan sementara bola Berger mendarat di sisi kiri green. Spieth, juara mayor dua kali, memukul pertama, dan bolanya bergulir masuk. Sementara bola Berger meleset beberapa kaki.

 

FootJoy Luncurkan D.N.A Helix

FootJoy D.N.A Helix

Sepatu golf D.N.A Helix merupakan bagian dari lini D.N.A. FootJoy, yang diluncurkan pada 2014. Helix terinspirasi langsung oleh masukan dari para pemain PGA Tour yang menginginkan stabilitas lebih baik dari sepatu D.N.A., khususnya di bagian tumit sepatu golf dibandingkan generasi sebelumnya, D.N.A. 2.0, kata FootJoy.

D.N.A. Helix memiliki desain outsole yang baru, NitroThin 3.0 TPU. Ini lebih ringan 23 persen daripada outsole D.N.A. sebelumnya, juga lebih lebar, sehingga meningkatkan stabilitas sepatu tersebut.

“Saya telah mengenakan semua versi DNA dan sejauh ini versi terbaru tersebut terbaik untuk saya,” kata Scott Stallings. “Penopang tambahan yang mereka buat, khususnya saat saya mengayun ke belakang dan memukul bola, fantastis.”

D.N.A. Helix ($209.99 dengan tali, $239.99 dengan Boa) dibuat dengan kulit ChromoSkin dari Pittards dan hadir dengan jaminan anti air dua tahun. Sepatu ini menggunakan cleat SoftSpikes Pulsar dan tersedia dalam tiga paduan warna (bertali: putih/merah/biru, putih/perak dan hitam). Modal Boa tersedia dalam satu paduan warna (putih/hitam).

Jordan Spieth Ingin Fokus Putt Lebih Konsisten di Travelers Championship

jordan spieth putt

Jordan Spieth tidak puas dengan pukulan putting-nya saat ini.

Berdasarkan statistik, Jordan Spieth berada di posisi ke-40 dalam kategori strokes gained: putting, memiliki poin 0,351 stroke di rata-rata lapangan, lebih rendah dibandingkan musim lalu dengan poin  0,758.

Dia tampil kurang mengesankan dengan stik rata di Erin Hills, dan dia mencoba memperbaikinya di turnamen Travelers Championship minggu ini.

Sepertinya dia tetap menggunakan putter andalannya Scotty Cameron 009 Prototype. Untuk ke depannya dia lebih fokus pada konsistensi ketimbang putt yang sempurna. Saat berbincang dengan para wartawan menjelang Travelers, Spieth berkata.

“Saya selama ini mencoba untuk membuat pukulan sempurna dengan konsistensi sempurna, dan ternyata itu tak penting,” kata Spieth. “Jika Anda melihat di satu titik dan Anda tahu set-up Anda sudah benar dan Anda bisa secara konsisten memukul ke arah itu, Anda tak perlu lagi khawatir dengan hasilnya seperti apa.”

Dia mengaku ingin kembali memiliki konsistensi seperti pada Tour Championship 2015 hingga Masters 2015. “Meski pukulan saya sedikit off, kontrol face ke pukulan itu tetap sama dari waktu ke waktu, konsistensi  itulah yang ingin saya dapatkan kembali.”

 

Phil Mickelson dan Caddie-nya Berpisah setelah 25 Tahun

Phil Mickelson dan caddie-nya yang sudah mendampingi dia dalam waktu lama Jim “Bones” Mackay mengumumkan perpisahan mereka melalui pernyataan bersama yang dikirimkan ke sejumlah media.

Mackay telah mendampingi Mickelson di lapangan sejak dia beralih ke pro pada 1992, dan kedua sahabat itu berbagi kenangan bersama selama  25 tahun . Pasangan itu menjuarai 41 gelar PGA Tour, termasuk lima gelar mayor, dan melewati 11 kali Ryder Cup bersama. Dan perbincangan keduanya baik di dalam maupun di luar lapangan telah menjadi legenda tersendiri.

Adik Phil, Tim, akan menggantikan Bones untuk sementara waktu. Pada awal musim ini, Tim menggantikan Bones di WGC-Mexico Championship karena Bones sakit. Sebelumnya, Bones tak pernah melewatkan satu putaran pun bersama Mickelson sejak American Express Championship 1999.

George Gandranata Rengkuh Gelar Kedua Berturut-Turut

George Gandranata, 31 tahun, mempertahankan gelar juaranya di Indonesian Golf Tour Seri ke-5 pada Kamis (8/6). Juara IGT Seri ke-4 ini harus berjuang keras untuk mengatasi kondisi cuaca yang berangin dan layout Riverside yang lumayan sulit. George menutup permainan dengan skor 72 (even par). Dengan hasil di hari terakhir ini, George mengumpulkan skor total 213 (tiga di-bawah par), dan menjuarai IGT untuk kedua kalinya di musim ini setelah IGT IV pada April lalu.

Sempat memimpin dengan skor 5 di-bawah par hingga hole 8, tetapi tereduksi lagi dua bogey pada hole 9 dan 10, George hanya unggul dua pukulan dengan Ian, yang juga baru membukukan skor total sementara satu di-bawah par. George kembali menambah birdie, menjadi 4 di-bawah par pada hole 12. Ian mulai mengejar di hole 13 dengan tambahan birdie.

Di hole 17 George membuat bogey, sehingga selisih skor menjadi satu pukulan. Namun, sayang Ian yang memang tidak dalam kondisi terbaiknya tidak dapat memaksakan untuk play off di hole 18 setelah membuat bogey di hole penutup tersebut.

“Permainan saya hari ini tidak sebagus hari pertama (membuat skor 68). Tee shot pada minggu ini pun memang kurang bagus. Karena itu, saya harus melatih lagi tee shot saya, apa yang salah pada pukulan ini. Namun, saya akui bahwa kedi saya sangat membantu untuk menjaga ritme permainan dan emosi saya, sehingga tidak membuat kesalahan fatal,” jelas George.

Untuk kemenangan kali ini, George mengulang kondisi seperti pada IGT IV. Ia memimpin sejak hari pertama dan terus bertahan hingga hari terakhir. Pada Seri ke-5 ini, George tampak lebih siap menghadapi apa pun hasilnya. Ia telah belajar dari pengalaman di IGT Seri ke-2 Modern ketika sudah unggul dengan empat pukulan di awal putaran terakhir tetapi kalah di hole penutup karena salah melakukan putt.

“Sejak (turnamen di) Modern, saya tampil lebih lepas. Saya kalah setelah sempat memimpin dengan jumlah pukulan yang banyak. Sejak itu, saya berpikir saya pernah kalah dengan skor seperti itu. (Hasil hari) Ini tidak bakal lebih jelek dari yang di Modern. Karena itu, swing saya pun lebih lepas,” kata George, yang membawa pulang hadiah uang sebesar Rp34 juta.

Sementara itu, Ian Andrew menduduki posisi kedua dengan skor total 215 (satu di-bawah par). Elki Kow yang melakukan debut baru  sebagai pegolf profesional pada IGT kali ini menempati posisi ketiga dengan skor 216 (even par), sedangkan Kevin C. Akbar (amatir) dan Benita Y. Kasiadi berada di T4 dengan skor 218 (dua di-atas par).

Bagi Kevin, hasil ini mengukuhkan dirinya sebagai juara amatir terbaik (the Low Amateur) pada IGT Seri ke-5 ini. Kevin mengungguli rekan atlet seprovinsinya (Jawa Barat), Naraajie Emerald Putra, dengan dua pukulan.